Selasa, 22 Maret 2011

PERGAULAN ISLAM UNIVERSAL

Allah SWT. berfirman : "Jikalau ahlul kitab beriman, niscaya hal tersebut merupakan kebaikan bagi mereka. Di antara mereka terdapat orang-orang mukmin dan sebagian besar dari mereka adalah orang-orang fasik. Tidaklah sama, diantara ahlul kitab terdapat umat yang bangun di malam hari membaca Al-Quran dan mereka juga bersujud. Beriman kepada Allah dan hari akhir, menyerukan pada kebaikan, melarang kemungkaran dan mereka juga bersaing dalam kebajikan. mereka adalah orang-orang saleh. kebaikan yang mereka lakukan tidak akan pernah diabaikan dan Allah maha tahu atas orang-orang yang bertaqwa." (Q.S. Ali 'Imran : 110, 113-115)

Rasulullah Bersabda,Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi-nabi terdahulu, yaitu seperti seseorang yang membangun rumah lalu menyempurnakan dan memperindahnya kecuali sebuah batu di bagian pojok rumah. kemudian orang-orang mengelilingi dan mengagumi tempat tersebut. Mereka bertanya, kenapa batu ini tidak diletakkan? Rasulullah SAW. menjawab, "Saya adalah batunya dan saya adalah penutup para Nabi." (H.R. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Di Madinah, Rasulullah saw. telah mempraktikkan toleransi dalam kehidupan keberagamaan dan politik. Dikisahkan, bahwa pada suatu hari ketika delegasi Kristen Najran mendatangi Rasulullah saw., beliau menerima mereka di masjid. Saat itu Rasulullah sedang melaksanakan Sholat Ashar. Lalu mereka meminta izin kepada Rasulullah saw untuk melakukan kebaktian di masjid. Beliau menjawab, "biarkan mereka melakukan kebaktian di masjid ini". Mereka pun menunaikan kebaktian sembari menghadap ke arah timur. (Zuhairi Misrawi, Al-Quran Kitab Toleransi, hal. 197)

Dari beberapa ayat, hadits, dan riwayat di atas, telah tergambar bahwa di awal kelahiran Islam Nabi telah meletakkan dasar-dasar pergaulan dengan penganut agama lain, bahwa pada dasarnya tidak ada permusuhan antara penganut agama. bahkan pergaulan ini sesungguhnya telah diabadikan Oleh Rasulullah di dalam Konstitusi Madinah, kesepakatan-kesepakatan antara penganut-penganut agama yang hidup di dalam pemerintahan Madinah sudah diikrarkan dan secara tertulis hitam di atas putih. sebagai sebuah simbol kehormatan orang-orang yang hidup di dalamnya. Mereka hidup dalam sebuah negara yang satu sama lain saling menghormati privasi masing-masing agama. Dalam rangka menegakkan ikrar yang sudah menjadi Konstitusi Madinah, konsekuensinya adalah mereka harus saling membantu, menolong, bahu-membahu dalam rangka menjalani aktifitas hidup yang wajar sebagai elemen-elemen penting dalam sebuah negara bahkan mempertahankan Negara dari serangan musuh sampai titik darah penghabisan.

Rekonstruksi Nasikh wa Mansukh Dalam Menafsirkan Ayat al-Quran yang Mengajarkan Toleransi Dalam Keragaman

Sebagaimana yang termaktub di dalam surat al-Baqarah ayat 62 dan surat al-Maidah ayat 69, yang artinya: "Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin[56], siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah[57], hari Kemudian dan beramal saleh[58], mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". Ayat ini kemudian jika dikaitkan dengan surah Ali-Imran ayat 85, yang akan timbul bahwa ayat ini seolah-olah mengabrogasi/me-mansukh ayat 62 dan 69 di atas, ayat 85 tersebut berbunyi, "Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." Menurut tafsir Buya Hamka bahwa ayat tersebut tidak mengabrogasi ayat 62 dan 69, menurut beliau ayat 85 ini bukanlah menghapuskan ayat 62 dan 69 dari surat al-Baqarah dan al-Maidah di atas, melainkan memperkuatya. Sebab hakikat Islam ialah percaya kepada Allah SWT, dan hari akhirat. Percaya kepada Allah SWT., artinya percaya kepada segala firman-Nya, segala Rasul-Nya, dengan tidak tekecuali, termasuk percaya kepada Nabi Muhammad Saw., dan hendaklah iman itu diikuti oleh amal yang saleh."

Buya Hamka menambahkan, "Kalau dikatakan ayat 62 dan 69 dinasikhkan oleh ayat 85 surah Ai Iman itu yang akan timbul ialah fanatik: mengakui diri Islam, walaupun tidak pernah mengamalkannya. Dan surga itu hanya dijamin untuk kita saja. Tetapi kalau kita paamkan bahwa diantara ayat-ayat ini adalah lengkap melengkapi, maka pintu dakwah senantiasa terbuka, dan kedudukan Islam tetap menjadi agama fitrah, tetap (tertulis tetapi) dalam kemurniannya, sesuai dengan jiwa asli manusia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar