Kamis, 12 Januari 2012

MATERI AIKA 2 ; KEBUTUHAN PSIKOLOGIS MANUSIA TERHADAP AGAMA


MATERI PENGAJARAN PERTEMUAN KEDUA
AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN 1

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

KEBUTUHAN PSIKOLOGIS MANUSIA TERHADAP AGAMA
Pengertian Kebutuhan Psikologis Manusia Terhadap Agama
Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama
Kedudukan dan Tanggung Jawab Manusia
Oleh : ZULPIQOR, MA

PENDAHULUAN

Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi,
kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya yang maha kuasa tempat mereka berlindung dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika, kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya. Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kestabilan yang statis. adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya.

A.   Pengertian Kebutuhan Psikologis Manusia Terhadap Agama

Pengertian kebutuhan psikologis manusia terhadap agama yaitu pengaruh yang datangnya dari jiwa seseorang, bagaimana ia berfikir, bersikap, bereaksi, dan bertingkah laku yang menimbulkan keyakinan untuk dapat menghadirkan Tuhan, karena manusia menyadari akan keterbatasan dan kekurangannya untuk melindungi dirinya dari sesuatu yang tidak sanggup ia hadapi, keyakinannya itu masuk dalam konstruksi kepribadiannya. Oleh karenanya manusia juga biasa disebut sebagai makhluk yang beragama (homo religius)

Keterkaitan manusia dengan agama menurut Will Durant, seperti dikutip oleh Murtadha Muthahhari sebagai berikut : “Manusia memiliki seratus jiwa, segala sesuatu bila telah dibunuh, pada kali pertama itu pun sudah mati untuk selama-lamanya, kecuali agama. Ia akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.”

Dari ungkapan di atas dapat dilihat bahwa agama itu merupakan sifat manusia yang tidak dapat dipisahkan dari manusia itu sendiri. Dari sejarah keagamaan pun dapat ditunjuk sebagai bukti bahwa manusia sejak dari nabi Adam sampai sekarang ini walau dalam kualitas yang berbeda-beda senantiasa terkait dengan kepercayaan kepada sesuatu yang gaib (supernatural) yang dipandang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan, bahkan pada tingkat yang tertinggi diyakini sebagai tempat mempertaruhkan kehidupan. (Prof. Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2002. Hal. 46-47)

Dikemukakan lebih lanjut, bahwa kebutuhan makhluk akan Khalik, sama sekali tidak bisa dihindarkan. Makhluk sebagai ciptaan, bagaimanapun sangat tergantung kepada Sang Pencipta (Khalik). Ketergantungan ini menurut Murtadha Muthahhari, karena memang potensi tersebut sudah ada dalam diri setiap makhluk. Pada Benda-Benda mati potensi ini disebut watak (al-tabi’ah) yang menunjukkan ciri khas atau karakteristik makhluk itu masing-masing. Pada hewan disebut naluri (al-gharizah), sedangkan pada manusia adalah fitrah. (Murtadha Muthahhari, Fitrah, terj. Afif Muhammad, Jakarta: Lentera, 1998. Hal. 19-22)

Hubungan manusia dan agama tampaknya merupakan hubungan yang bersifat kodrati. Agama itu sendiri menyatu dalam fitrah penciptaan manusia. Terwujud dalam bentuk ketundukan, kerinduan ibadah, serta sifat-sifat luhur. Manakala dalam menjalankan kehidupannya, manusia menyimpang dari nilai-nilai fitrah-nya, maka secara psikologis ia akan merasa adanya semacam “hukum moral”. Lalu spontan akan muncul rasa bersalah atau rasa berdosa (sense of guilty). (Prof. Dr. H. Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Rajawali Pers, 2010. Hal. 159)

B.  Latar Belakang Perlunya Manusia Terhadap Agama

Latar belakang perlunya manusia terhadap agama, karena di dalam diri manusia terdapat keinginan terhadap sesuatu yang mendorong timbulnya motifasi agama, contoh kasus motivasi beragama yang tinggi dalam Islam, antara lain:
·         Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan surga dan menyelamatkan diri dari azab neraka.
·         Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
·         Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keridhaan Allah dalam hidupnya.
·         Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan kesejahteraan dan kebahagiaan hidup.
·         Motivasi beragama karena didorong ingin hulul (mengambil tempat untuk menjadi satu dengan Tuhan).
·         Motivasi beragama karena didorong oleh kecintaan (mahabbah) kepada Allah SWT.
·         Motivasi beragama karena ingin mengetahui rahasia Tuhan dan peraturan Tuhan tentang segala yang ada (ma’rifah)
·         Motivasi beragama karena didorong oleh keinginan untuk al-ittihad (bersatu dengan Tuhan)
(Prof. Dr. H. Ramayulis, Psikologi Agama, Jakarta: Kalam Mulia, 2002.Hal. 83-84)

a.    Bagaimana pandangan Al-Quran tentang Latar Belakang Perlunya manusia terhadap agama dapat dilihat dari beberapa tema dalam ayat sebagai berikut :

1)      Agama adalah kebutuhan fitri manusia
Fitrah keagamaan yang ada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia pada agama. Oleh karenanya, ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan tersebut memang amat sejalan dengan fitrahnya itu. Dalam konteks ini Allah berfirman dalam Q.S. Ar-Rum, 30:30

óOÏ%r'sù y7ygô_ur ÈûïÏe$#Ï9 $ZÿÏZym 4 |NtôÜÏù «!$# ÓÉL©9$# tsÜsù }¨$¨Z9$# $pköŽn=tæ 4 Ÿw Ÿ@ƒÏö7s? È,ù=yÜÏ9 «!$# 4 šÏ9ºsŒ ÚúïÏe$!$# ÞOÍhŠs)ø9$#  ÆÅ3»s9ur uŽsYò2r& Ĩ$¨Z9$# Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÌÉÈ
Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah* Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. Ar-Rum: 30)
________________________________

*  fitrah Allah: maksudnya ciptaan Allah. manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.


2)      Infomasi mengenai potensi beragama yang dimiliki manusia dapat pula dijumpai pada ayat sebagai berikut;
(QS. Al-A’raf: 172)
øŒÎ)ur xs{r& y7/u .`ÏB ûÓÍ_t/ tPyŠ#uä `ÏB óOÏdÍqßgàß öNåktJ­ƒÍhèŒ öNèdypkô­r&ur #n?tã öNÍkŦàÿRr& àMó¡s9r& öNä3În/tÎ/ ( (#qä9$s% 4n?t/ ¡ !$tRôÎgx© ¡ cr& (#qä9qà)s? tPöqtƒ ÏpyJ»uŠÉ)ø9$# $¯RÎ) $¨Zà2 ô`tã #x»yd tû,Î#Ïÿ»xî .
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku Ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)", (QS. Al-A’Raf: 172)

3)      Dalam hadits Nabi dikatakan bahwa:

”Kullu mauludin yulaadu ’alal fitrah, fa abawaahu aw yuhaawidaanihi, aw yunaasiraanihi, aw yumaajisaanihi” (Al-Hadits)

”Setiap anak yang dilahirkan memiliki fitrah (potensi beragama), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan anak tersebut menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

b.    Perlunya manusia terhadap agama bisa dianalisis dari berbagai kebutuhan manusia, berikut pendapat 2 orang pakar yang bisa kita lihat sebagai berikut:
1.    Menurut J.P.Guilford, kebutuhan dasar manusia terdiri dari :
1)      Kebutuhan individual : kebutuhan yang berhubungan dengan kebutuhan jasmani.
2)      Kebutuhan sosial (rohaniah) : kebutuhan yang tidak disebabkan oleh perngaruh yang datang dari luar (stimulas). Kebutuhan sosial pada manusia berbentuk nilai seperti pujian, dan binaan, kekuasaan dan mengalah, pergaulan, imitasi dan simpati serta perhatian.
3)      Kebutuhan akan agama : manusia disebut segabai mahkluk beragama (homo Religius). Kebutuhan akan agama ini merupakan kebutuhan insaniah yang tumbuh dari gabungan berbagai faktor penyebab dari rasa keberagamaan.

2.    Menurut Dr. Zakiah Daradjat, bahwa pada diri manusia itu terdapat kebutuhan pokok. Beliau mengemukakan bahwa selain dari kebutuhan jasmani dan kebutuhan rohani manusia mempunyai suatu kebutuhan akan adanya kebutuhan akan keseimbangan dalam kehidupan jiwanya agar tidak mengalami tekanan.

Unsur-unsur yang dikemukakannya yaitu :
1)    Kebutuhan akan rasa kasih sayang
2)    Kebutuhan akan rasa aman
3)    Kebutuhan akan rasa harga diri
4)    Kebutuhan akan rasa bebas

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar