Kamis, 12 Januari 2012

MATERI AIKA 5 ; SEJARAH TURUNNYA RISALAH DINUL ISLAM

MATERI PENGAJARAN PERTEMUAN KELIMA
AL-ISLAM KEMUHAMMADIYAHAN 1

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG
TAHUN AKADEMIK 2011/2012

SEJARAH TURUNNYA RISALAH DINUL ISLAM
Masyarakat Arab Pra dan Pasca Diturunkannya Al-Quran
Peristiwa Hari Pertama Al-Quran Diturunkan dan Tempatnya
Peristiwa Ayat Al-Quran Terakhir Diturunkan dan Tempatnya
Oleh : ZULPIQOR, MA


Mengucapkan Salam
Memulai Perkuliahan dengan membaca BASMALAH
Menjelaskan Deskripsi singkat materi pembelajaran hari ini mengenai Sejarah Al-Quran ; mata kuliah ini menjelaskan secara mendalam tentang kondisi masyarakat Arab sebelum dan sesudah turunnya Al-Quran, ayat dan surah yang mula-mula dan terakhir diturunkan, kemudian bagaimana cara Al-Quran diturunkan serta tempat-tempat Al-Quran diwahyukan.
Menjelaskan manfaat mempelajari materi Sejarah Al-Quran bagi kehidupan sehari-hari mahasiswa adalah agar mahasiswa memperoleh pengetahuan secara lebih mendalam tentang bagaimana masyarakat Arab sebelum turunnya Al-Quran dan juga dapat mengetahui kondisi masyarakat Arab setelah turunnya Al-Quran, kemudian agar mengetahui ayat yang mula-mula diturunkan dan yang terakhir diturunkan bagaimana cara Al-Quran diturunkan dan dapat mengetahui lokasi penurunan Al-Quran.

A.      MASYARAKAT ARAB PRA DAN PASCA DITURUNKANNYA AL-QURAN
1.        Kondisi Masyarakat Arab Pra Turunnya Al-Quran
Ketika Nabi Muhammad SAW lahir (570 M) Makkah adalah sebuah kota yang sangat penting dan terkenal di antara kota-kota di negeri Arab, baik karena tradisinya maupun karena letaknya. Kota ini dilalui jalur perdagangan yang ramai, menghubungkan Yaman di selatan dan Syiria di utara. Dengan adanya Ka’bah di tengah kota, Makkah menjadi pusat keagamaan Arab. Ka’bah adalah tempat mereka berziarah. Di dalamnya terdapat 360 berhala, mengelilingi berhala utama, Hubal.
Masyarakat Arab hidup Nomaden dan menetap, hidup dalam budaya kesukuan Badui. Kota terpenting di daerah ini adalah Makkah, kota suci tempat Ka’bah berdiri. Ka’bah masa itu bukan saja disucikan dan dikunjungi oleh penganut-penganut agama asli Makkah, tetapi juga oleh orang-orang Yahudi yang bermukim di sana.
1)       Kondisi Geografis
Wilayah Arab merupakan wilayah gersang yang terisolasi, jika dilihat dari sisi lautan dan daratan. Arab terbagi menjadi dua bagian besar; bagian tengah dan bagian pesisir, dengan kondisi tidak ada sungai yang mengalir tetap, yang ada hanya lembah-lembah berair di musim hujan. Sebagian besar adalah padang pasir sahara yang memiliki sifat dan keadaan yang berbeda-beda.

2)       Kondisi Politik
Jazirah Arab tidak pernah diperhitungkan, oleh imperium raksasa seperti Bizantium dan Persia yang mengapit Jazirah Arab. Dua imperium tersebut selalu diliputi ketegangan memperebutkan kekuasaan. Peperangan antar suku menjadi kesukaan masyarakat Arab. Situasi seperti ini terus berlangsung sampai agama Islamn lahir. Konflik berkepanjangan Bizantium dan Persia ini digambarkan dalam Al-Quran Surah Ar-Rum ayat 2 – 4 ;
ÏMt7Î=äñ ãPr9$# ÇËÈ þÎû oT÷Šr& ÇÚöF{$# Nèdur -ÆÏiB Ï÷èt/ óOÎgÎ6n=yñ šcqç7Î=øóuy ÇÌÈ Îû ÆìôÒÎ/ šúüÏZÅ 3 ¬! ãøBF{$# `ÏB ã@ö6s% .`ÏBur ß÷èt/ 4 7ͳtBöqtƒur ßytøÿtƒ šcqãZÏB÷sßJø9$# ÇÍÈ
Telah dikalahkan bangsa Rumawi. Di negeri yang terdekat dan mereka sesudah dikalahkan itu akan menang. Dalam beberapa tahun lagi. bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). dan di hari (kemenangan bangsa Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman,


3)       Kondisi Sosial
Peradaban telah hancur akibat konflik antar etnis, kesukuan dan primordialitas (mempertahankan adat kebiasaan turun temurun), Masyarakat Arab suka berperang; karena itu peperangan antar suku sering terjadi. Akibatnya nilai perempuan menjadi sangat rendah, tidak ada kesatuan dari struktur suku langsung, mereka bermusuhan satu sama lain saling bermusuhan. Merampok adalah hal biasa, dendam, berkelahi, tidak bermoral pada umumnya. Pada tingkat individu termotivasi oleh keserakahan, egoistis, dan tidak terlalu peduli dengan orang lain. Kecemburuan, eksploitasi, minuman keras, perjudian, pembunuhan menggambarkan kejahatan dan kegagalan moral rakyat Arab.

4)       Kondisi Budaya
Akibat peperangan yang terus menerus, kebudayaan mereka tidak berkembang. Karena itu bahan-bahan sejarah pra Islam sangat langka didapatkan. Sejarah mereka hanya diketahui dari masa kira-kira 150 tahun menjelang lahirnya agama Islam. Apa yang berkembang menjelang kelahiran Islam itu merupakan pengaruh dari budaya bangsa-bangsa di sekitarnya yang lebih awal maju dari pada kebudayaan dan peradaban Arab.

5)       Kondisi Ekonomi
Kota Makkah terletak di jalur perdagangan yang penting, disamping kondisi geografis Jazirah Arab pada umumnya tandus dan gersang maka aktifitas ekonomi lebih bertumpu pada sektor perdagangan, ada juga yang bertani, tetapi jumlahnya sangatlah kecil. Kafilah disepakati sebagai jaminan keamanan dalam perjalanan, karena perampokan menjadi momok yang sangat menakutkan. Meski iklim perdagangan tumbuh sangat kondusif di Mekkah, bukan berarti pemerataan ekonomi yang berkeadilan dapat terwujud di sana. Kondisi geografis yang panas ternyata turut membentuk karakter orang-orang mekkah menjadi tempramental. Fenomena ini menyulut hasrat monopoli ekonomi yang menimbulkan praktik-praktik perekonomian yang tidak etis dan sangat eksploitatif. Ketimpangan ekonomi antara si kaya dan si miskin begitu mengaga, karena itulah acap kali terjadi insiden-insiden kecil yang berujung pada pecahnya konflik sosial.

2.        Kondisi Masyarakat Arab Pasca Turunnya Al-Quran
Dalam rangka memperkokoh masyarakat dan Negara baru itu, Nabi segera meletakkan dasar-dasar kehidupan bermasyarakat;
Dasar pertama, pembangunan masjid, selain untuk tempat shalat, juga sebagai sarana penting untuk mempersatukan kaum Muslimin dan mempertalikan jiwa mereka, tempat bermusyawarah dan latihan perang.
Dasar kedua, adalah Ukhuwah Islamiyah, persaudaraan sesama muslim. Nabi mempersaudarakan antara golongan Muhajirin dan Anshar.
Dasar ketiga, hubungan persahabatan dengan pihak-pihak lain yang tidak beragama Islam.
Dalam bidang sosial, dia juga meletakkan dasar persamaan antar sesama manusia. Perjanjian ini, dalam pandangan ketatanegaraan sekarang, sering disebut dengan Konstitusi Madinah.

B.     PERISTIWA AYAT PERTAMA AL-QURAN DITURUNKAN DAN TEMPATNYA
Pendapat yang paling shahih mengenai yang pertama kali turun ialah firman Allah:
ù&tø%$# ÉOó$$Î/ y7În/u Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ ù&tø%$# y7š/uur ãPtø.F{$# ÇÌÈ Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pendapat ini didasarkan pada suatu hadits yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadits dan yang lain, dari Aisyah r.a mengenai peristiwa turunnya ayat ini di gua Hira, diawali dari mimpi Rasulullah yang melihat dalam mimpi itu keadaan terang benderang bagaikan terangnya pagi hari, kemudian dia sering menyendiri dan kemudian beberapa kali ia mendatangi gua Hira untuk beribadah beberapa malam. Lalu turunlah lima ayat ini.
Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun ialah firman Allah : Yaa ayyuhal muddassiir (wahai orang yang berselimut). Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh dua syaikh ahli hadits:
Dari Abu Salamah bin Abdurrahman; dia berkata: “Aku telah bertanya kepada Jabir bin Abdullah: Yang manakah di antara Quran itu yang turun pertama kali? Dia menjawab: Yaa ayyuhal muddassir. Aku bertanya lagi: Ataukah iqra’ bismi rabbik? Dia menjawab: “Aku katakan kepadamu apa yang dikatakan Rasulullah s.a.w. kepada kami: “Sesungguhnya aku berdiam diri di gua Hira. Maka ketika habis masa diamku, aku turun lalu aku telusuri lembah. Aku lihat ke muka, ke belakang, ke kanan dan ke kiri. Lalu aku lihat ke langit, tiba-tiba aku melihat jibril yang amat menakutkan. Maka aku pulang ke Khadijah. Khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimuti aku. Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: “Wahai orang yang berselimut; bangkitlah, lalu berilah peringatan.”

Mengenai hadits Jabir ini, dapatlah dijelaskan bahwa pertanyaan itu mengenai surah yang diturunkan secara penuh. Jabir menjelaskan bahwa surah Muddassir-lah yang turun secara penuh sebelum surah Iqra’ selesai diturunkan, karena yang turun pertama sekali dari surah Iqra’ itu hanyalah permulaannya saja. Hal yang demikian ini juga diperkuat oleh hadits Abu Salamah dari Jabir yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim. Jabir berkata:
“Aku telah mendengar Rasulullah s.a.w. ketika ia berbicara mengenai putusnya wahyu, maka katanya dalam pembicaraan itu: ‘Ketika aku berjalan, aku mendengar suara dari langit. Lalu aku angkat kepalaku, tiba-tiba aku melihat malaikat yang mendatangi aku di gua Hira itu duduk diatas kursi antara langit dan bumi, lalu aku pulang dan aku katakan: Selimuti aku! Mereka pun menyelimuti aku. Lalu Allah menurunkan: Yaa ayyuhal muddassir.’”

Hadits ini menunjukkan bahwa kisah tersebut lebih kemudian daripada kisah gua Hira, atau Muddassir itu adalah surah pertama yang diturukan setelah terhentinya wahyu. Jabir telah mengeluarkan yang demikian ini dengan ijtihadnya, akan tetapi riwayat Aisyah lebih mendahuluinya. Dengan demikian maka ayat Quran yang pertama kali turun secara mutlak ialah Iqra’ dan surah yang pertama diturunkan secara lengkap dan pertama diturunkan setelah terhentinya wahyu ialah Yaa ayyuhal muddassir dan untuk kenabiannya ialah Iqra’.
Dikatakan pula, bahwa yang pertama kali turun adalah surah Fatihah. Mungkin yang dimaksudkan adalah surah yang pertama kali turun secara lengkap.
Disebutkan juga bahwa yang pertama kali turun adalah Bismillaahirrahmaanirrahiim, karena basmalah ini turun mendahului setiap surah. Dalil-dalil kedua pendapat tersebut mursal. Pendapat pertama yang didukung oleh hadits Aisyah itulah pendapat yang kuat dan masyhur.
Cara menyatukan pendapat-pendapat di atas bahwa ayat yang pertama kali turun adalah Iqra’ bismirrabbik, dan ayat mengenai perintah tablig (untuk menyampaikan) yang pertama kali turun ialah Yaa ayyuhal muddassir, sedang surah yang pertama kali turun ialah Fatihah.
Juga dikatakan bahwa yang pertama kali turun mengenai kerasulan adalah Yaa ayyuhal muddassir, dan yang pertama kali turun mengenai kenabian adalah Iqra’ bismi rabbik. Hal itu disebabkan para ulama mengatakan bahwa firman Allah Iqra’ bismi rabbik itu menunjukkan kenabian Muhammad s.a.w. sebab kenabian itu adalah wahyu kepada seseorang melalui perantaraan malaikat dengan penugasan khusus. Sedang firman Allah Yaa ayyuhal muddassir; qum fa anzir itu menunjukkan kerasulannya, sebab kerasulan itu adalah wahyu kepada seseorang dengan perantaraan malaikat dengan penugasan umum.   

C.     PERISTIWA AYAT AL-QURAN TERAKHIR DITURUNKAN DAN TEMPATNYA
Dikatakan bahwa ayat terakhir yang diturunkan itu adalah ayat mengenai riba. Ini didasarkan pada hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Ibnu Abbas, yang mengatakan: ”ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat mengenai riba.” Yang dimaksudkan adalah firman Allah:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qà)®?$# ©!$# (#râsŒur $tB uÅ+t/ z`ÏB (##qt/Ìh9$# bÎ) OçFZä. tûüÏZÏB÷sB ÇËÐÑÈ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah: 278)

Dan dikatakan pula bahwa ayat Quran yang terakhir diturunkan ialah firman Allah:
(#qà)¨?$#ur $YBöqtƒ šcqãèy_öè? ÏmŠÏù n<Î) «!$# ( §NèO 4¯ûuqè? @ä. <§øÿtR $¨B ôMt6|¡Ÿ2 öNèdur Ÿw tbqãKn=ôàムÇËÑÊÈ
Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang Sempurna terhadap apa yang Telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al-Baqarah: 281)

Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dan lain-lain, dari Ibn Abbas dan Said bin Jubair: Ayat Quran terakhir turun ialah: Dan peliharalah dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah...” (al-Baqarah: 281)

Juga dikatakan bahwa yang terakhir kali turun itu ayat mengenai utang; berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyab: ”Telah sampai kepadanya bahwa ayat Quran yang paling muda di ’Arsy ialah ayat mengenai utang.” yang dimaksudkan ialah ayat:
$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãZtB#uä #sŒÎ) LäêZtƒ#ys? AûøïyÎ/ #n<Î) 9@y_r& wK|¡B çnqç7çFò2$$sù 4
”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu'amalah[179] tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” ............ (QS. Al-Baqarah: 282)
           
Ketiga riwayat itu dapat dipadukan, yaitu bahwa ketiga ayat tersebut di atas diturunkan sekaligus seperti tertib urutannya di dalam mushaf. Ayat mengenai riba, ayat peliharalah dirimu dari azab yang terjadi pada suatu hari kemudian ayat mengenai utang, karena ayat-ayat itu masih satu kisah. Setiap perawi mengabarkan bahwa sebagian dari yang diturunkan itu sebagai yang terakhir kali. Dan itu memang benar. Dengan demikian, maka ketiga ayat itu tidak saling bertentangan.
Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat mengenai kalalah. Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Barra’ bin ’Azib; dia berkata: ”ayat yang terakhir kali turun adalah:
y7tRqçFøÿtGó¡o È@è% ª!$# öNà6ÏFøÿムÎû Ï's#»n=s3ø9$# 4 È
Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)[387]. Katakanlah: "Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah. (An-Nisa’: 176)

[387]  kalalah ialah: seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.


Ayat yang terakhir menurut hadis Barra’ ini adalah berhubungan dengan masalah warisan.
Pendapat lain menyatakan bahwa yang terakhir turun adalah firman Allah:
ôs)s9 öNà2uä!%y` Ñ^qßu ô`ÏiB öNà6Å¡àÿRr&
Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, ...” (QS. At-Taubah: 128)

Dalam al-Mustadrak disebutkan, dari Ubay bin Ka’ab yang mengatakan: “ayat yang terakhir kali diturunkan: “Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, ...” sampai akhir surah. Mungkin yang dimaksudkan adalah ayat terakhir yang diturunkan dari surah At-Taubah. Muslim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, hadits ini memberitahukan bahwa surah ini ialah surah yang diturunkan terakhir kali, karena ayat ini mengisyaratkan wafatnya Nabi s.a.w. sebagaimana difahami oleh sebagian sahabat. Atau mungkin surah ini adalah surah yang terakhir kali diturunkan.
Dikatakan pula bahwa yang terakhir kali turun adalah surah al-Maidah. Ini didasarkan pada riwayat Tirmidzi dan Hakim, dari ‘Aisyah r.a. Tetapi menurut pendapat kami, surah itu surah yang terakhir kali turun dalam hal halal dan haram, sehinggan tak satu hukum pun yang dinasikh di dalamnya.
Juga dikatakan bahwa yang terakhir kali turun adalah firman Allah:
z>$yftFó$$sù öNßgs9 öNßgš/u ÎoTr& Iw ßìÅÊé& Ÿ@uHxå 9@ÏJ»tã Nä3YÏiB `ÏiB @x.sŒ ÷rr& 4Ós\Ré& ( Nä3àÒ÷èt/ .`ÏiB <Ù÷èt/ ( t
“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain.”           (Ali ‘Imran : 195)

Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Mardawaih melalui Mujahid, dari Ummu Salamah; dia berkata: “Ayat yang terakhir kali turun adalah ayat ini. Hal itu disebabkan dia (Ummu Salamah) bertanya: Wahai Rasulullah, aku melihat Allah menyebutkan kaum lelaki akan tetapi tidak menyebutkan kaum perempuan. Maka turunlah ayat: “Dan janganlah kamu iri terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak daripada sebagian yang lain.” (an-Nisa’: 32) dan turun pula: “Sesungguhnya lai-laki dan perempuan yang Muslim.”(al-Ahzab: 35). Serta ayat ini: “Maka Tuhan mereka...” Ayat ini adalah yang terakhir diturunkan yang di dalamnya tidak hanya disebutkan kaum lelaki secara khusus.
Dari riwayat itu jelaslah bahwa ayat tersebut yang terakhir turun di antara ketiga ayat di atas, dan yang terakhir yang turun dari ayat-ayat yang di dalamnya disebutkan kaum perempuan.
Ada juga dikatakan bahwa ayat yang terakhir yang turun ialah ayat:
`tBur ö@çFø)tƒ $YYÏB÷sãB #YÏdJyètGB ¼çnät!#tyfsù ÞO¨Yygy_ #V$Î#»yz $pkŽÏù |=ÅÒxîur ª!$# Ïmøn=tã ¼çmuZyès9ur £tãr&ur ¼çms9 $¹/#xtã $VJŠÏàtã ÇÒÌÈ
“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (An-Nisa: 93)

Ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan Buhkari dan yang lain dari Ibn Abbas yang mengatakan: “Ayat ini (An-Nisa: 93) adalah ayat yang terakhir di turunkan dan tidak dinasikh oleh apapun.” Ungkapan “ia tidak dinasikh oleh apapun” itu menunjukkan bahwa ayat itu ayat yang terakhir turun dalam hukum membunuh seorang mukmin dengan sengaja.”

Dari Ibn Abbas dikatakan: “Surah terakhir yang diturunkan ialah:
#sŒÎ) uä!$y_ ãóÁtR «!$# ßx÷Gxÿø9$#ur ÇÊÈ
Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. (Q.S. An-Nashr: 1)

Pendapat-pendapat ini semua tidak mengandung sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw., masing-masing merupakan ijtihad dan dugaan. Mungkin pula bahwa masing-masing mereka itu memberitahukan mengenai apa yang terakhir didengarnya dari Rasulullah. Atau mungkin juga masing-masing mengatakan hal itu berdasarkan apa yang terakhir diturunkan dalam hal perundang-undangan tertentu, atau dalam hal surah terakhir yang diturunkan secara lengkap seperti setiap pendapat yang telah kami kemukakan di atas. Adapun firman Allah:
ô tPöquø9$# àMù=yJø.r& öNä3s9 öNä3oYƒÏŠ àMôJoÿøCr&ur öNä3øn=tæ ÓÉLyJ÷èÏR àMŠÅÊuur ãNä3s9 zN»n=óM}$# $YYƒÏŠ
“Pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)

Ayat ini diturunkan di Arafah tahun Haji Perpisahan (Wada’). Pada lahirnya ia menunjukkan penyempurnaan kewajiban dan hukum. Telah pula disyaratkan di atas, bahwa riwayat mengenai turunnya ayat riba, ayat utang-piutang, ayat kalalah dan yang lain itu setelah ayat ketiga surah al-Maidah. Oleh karena itu para Ulama menyatakan kesempurnaan agama di dalam ayat ini.

Sumber Bacaan:
Manna’ Khalil Al-Qattan, Ilmu-Ilmu Al-Quran
Subhi Ash-Shalih, Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar